Investor Enggan Bangun Pabrik Gula di Madura

  • Whatsapp
Pembangunan pabrik gula di Pamekasan sampai saat ini masih menunggu minat dari investor swasta. (Foto: Ist)

KABAR PAMEKASAN | Lantaran minat investor yang belum pasti, rencana pembangunan pabrik gula (PG) di Pamekasan belum bisa terealisasi. Padahal sudah ada sejumlah investor yang sempat melakukan survei lokasi.

“Ini sistemnya, kerja sama pembangunan dengan badan usaha. Jadi inisiatifnya dari pihak swasta atau dari BUMN. Kemarin ada beberapa swasta yang masuk, tapi tidak balik lagi” ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan daerah (Bappeda) Pamekasan Taufikurrachman.

Bacaan Lainnya

Disebutkan bahwa investor berencana membeli lahan pertanian di Pamekasan seluas 25 ribu hektar untuk pengembangan kebun tebu. Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi lanjutan. Diyakini, investor mengurungkan niatnya berinvestasi karena harga tanah di Pamekasan relatif mahal. Sementara investor menginginkan, Rp7 ribu setiap meter.

“Karena dia memperkirakan lahannya murah. Ternyata di Pamekasan lahannya mahal. Mereka hanya mau Rp7 ribu per meter,” ungkap pria asal Sumenep ini.

Namun menurutnya, yang perlu dipikirkan yaitu dampaknya yang akan mengurangi luas lahan pertanian tembakau. Sebab, dari 79 ribu hektar luas wilayah Pamekasan, 25 ribu hektar di antaranya digunakan untuk pengembangan tebu, sama dengan sepertiga dari luas Pamekasan.

“Tebu itu kan tanaman tahunan. Otomatis akan menggeser tembakau. Sedangkan tebu gak bisa diganti. Karena dalam bisnis tebu yang menguntungkan itu, pada tahun kedua dia tidak perlu membeli bibit,” ujarnya.

Dijelaskan, dengan sudah adanya survei, investor cukup tertarik dengan kondisi dan kualitas tanah di Pamekasan. Bahkan ada beberapa lokasi yang dinilai produktif untuk dijadikan lahan pengembangan tebu. Beberapa lokasi yang telah disurvei yaitu wilayah Kecamatan Proppo, Pademawu dan Pakong.

“Kalau programnya sudah jalan. Hanya tinggal minat swastanya itu untuk melakukan investasi. Karena kalau negara dan daerah sepertinya tidak mampu,” tukasnya.

Sedangkan teknis yang direncanakan investor, dari dari 25 ribu hektar lahan yang diinginkan, 10 ribu di antaranya dimanfaatkan untuk lahan pabrik dan kebun inti. Sementara 15 ribu hektarnya dijadikan kebun tebu plasma. Setelah tanah itu dibeli, maka meski tanah tersebut tidak atas nama warga, namun warga memiliki hak pakai.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (Jatim) Karyadi mengaku akan menjadikan rencana pembangunan PG sebagai rencana prioritasnya ke depan. Bahkan, pihaknya mengaku telah berkomunikasi secara intens dengan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam.

“Investor pada enggan untuk masuk di Madura. Ini yang harus kita eliminir,” ungkap Karyadi. (ali/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *