Bio Teknologi Surabaya Tawarkan Teknologi Pengelolaan Sampah kepada Pemkab Pamekasan

  • Whatsapp
Rombongan PT. Bio Teknologi Surabaya saat memaparkan manfaat teknologi pengelolaan sampah kepada Pemkab Pamekasan. (Foto: Ali Wafa)

KABAR PAMEKASAN | PT Bio Teknologi Surabaya menawarkan teknologi berkemajuan dalam pengelolaan sampah kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, agar sampah dapat dikelola dan dikembangkan menjadi energi terbarukan yang ramah lingkungan. Teknologi tersebut dapat menyulap sampah menjadi energi listrik.

Salah satu tim engineering PT Bio Teknologi Surabaya Dandi Adi Satria mengatakan, pada tahun 2025, Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan menghentikan penggunaan pembangkit listrik bertenaga batu bara. Menurutnya, sampah dapat dijadikan bahan baku pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Selain itu, juga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Bacaan Lainnya

Teknologi itu bernama TPA Integrated. Teknologi itu bisa menjadikan gas metan, hasil proses pembusukan sampah menjadi energi listrik. Ada tiga macam teknologi yang ditawarkan sesuai kemampuan anggaran daerah. Yaitu: Incinerator Integrated untuk mengurangi sampah secara berkelanjutan. Anggaran yang dibutuhkan untuk teknologi tersebut sekitar Rp20 miliar.

“Kalau sifatnya urgen dan tidak butuh anggaran besar bisa menggunakan teknologi ini,” ucap Dandi.

Kedua, Land Fill Gas Methane Integrated. Teknologi ini dapat digunakan untuk volume sampah yang sangat banyak, bisa dijadikan produk unggulan terbarukan energi listrik. Ketiga, Waste to Power Plant. Teknologi ini selain bisa mengurangi sampah, juga bisa diproses di tempat pembuangan akhir (TPA) dengan PLTU. Namun membutuhkan anggaran ratusan miliar rupiah.

“Kalau gol, membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua tahun baru bisa beroperasi,” ucap Dandi.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pamekasan Taufikurrachman menilai, saat ini sampah telah menjadi masalah dunia yang perlu dikelola dan dikendalikan. Namun menurutnya, anggaran yang dimiliki Pamekasan belum mampu untuk menggunakan teknologi yang ditawarkan PT. Bio Teknologi Surabaya. Kendati begitu, pihaknya masih akan mempelajari tawaran itu.

“Kami pelajari dulu. Karena ini butuh biaya cukup besar. Kalau dikelola APBD sendiri sepertinya tidak mungkin. Jadi harus dari pemerintah pusat,” ucap Taufik. (ali/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *