HOK Dikurangi agar BEP Rendah

  • Whatsapp
DKPP Pamekasan masih akan berkonsultasi dengan balittas terkait juknis HOK dalam pengelolaan tanaman tembakau. (Foto: Ali Wafa)

KABAR PAMEKASAN | Penetapan break event point (BEP) tanaman tembakau di Pamekasan masih menuai pro kontra antara Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Pamekasan dengan sejumlah pabrikan. Pasalnya, petunjuk teknis (juknis) dari DKPP mengenai jumlah hari orang kerja (HOK) belum dijalankan sepenuhnya oleh pabrikan.

Kepala Bidang (Kabid) Produksi Pertanian DKPP Pamekasan Achmad Suaidi menjelaskan, berdasarkan juknis yang ada, pihaknya menghitung secara normatif, selama satu musim tanam tembakau pengairan dilakukan selama 40 kali. Sementara dalam satu hektar lahan menampung populasi 30 ribu tanaman tembakau.

Bacaan Lainnya

Pihaknya menghitung, jika setiap orang mampu mengairi 5.000 tanaman tembakau, maka untuk mengairi satu hektar lahan tanam tembakau setiap orang memerlukan waktu enam HOK. Maka untuk mencapai 40 kali pengairan setiap orang memerlukan 240 HOK.

“Empat puluh kali itu dalam satu musim mulai dari awal sampai panen,” ucap Suaidi.

Sementara menurutnya, setiap pabrikan memiliki mitra di bawah. Namun pabrikan tidak melaksanakan juknis yang ditetapkan DKPP. Pabrikan cenderung mengurangi HOK dengan tidak melakukan pengairan sebanyak 40 kali. Alasan mereka karena tembakau telah diairi oleh hujan.

Suaidi menjelaskan, jika dalam praktik pengolahan tanaman tembakau tidak mencapai 240 HOK, maka biaya pokok produksi yang dikeluarkan petani lebih sedikit. Saat itulah pabrikan menjadikan hal itu sebagai alasan agar mereka bisa menetapkan BEP lebih rendah.

Karena itu, pihaknya masih akan berkonsultasi kepada balai penelitian tanaman pemanis dan serat (balittas) terkait penetapan juknis menangani jumlah HOK.

“Mereka (pabrikan, red) bilang, kalau hujan mereka tidak nyiram. Kami menghitungnya normatif,” pungkas Suaidi.

Sekretaris Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Moh. Ali meminta agar pemerintah tidak terpengaruh oleh kelihaian pabrikan dalam menentukan BEP. Sebab menurutnya, pabrikan akan terus berusaha agar bisa membeli tembakau petani dengan harga rendah.

“Kita harus lebih berpihak kepada petani. Pertama usahakan agar petani tidak rugi. Tentu selain itu kita perjuangkan agar petani mendapat untung,” tegas politisi Partai Demokrat itu. (ali/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *