Garam Pamekasan Potensial Hilang 52 Ton per Hektar

  • Whatsapp
Salah satu petambak garam di Pamekasan sedang mengolah garam hasil budidayanya. (Foto: Ali Wafa)

KABAR PAMEKASAN | Meski memasuki musim kemarau, namun hujan masih kerap mengguyur bumi Gerbang Salam, julukan untuk Pamekasan. Kemarau basah yang terjadi di Pamekasan belakangan ini, dipastikan akan berpengaruh terhadap budidaya garam. Bahkan, kerugian para petambak garam akibat rusaknya lahan diprediksi sebesar Rp500 ribu setiap meja kristal.

“Petambak itu harus melakukan perombakan ulang. Geoisolator yang sudah terpasang kena hujan harus dirombak ulang,” ucap Kepala Seksi (Kasi) Sarana dan Prasarana (Sarpras) Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Pamekasan Hadi Agus Subeno.

Bacaan Lainnya

Tidak hanya kerugian secara materi, pihaknya meyakini petambak juga mengalami rugi waktu dan tenaga. Sebab harus mengeringkan lahan lagi dan memasang kembali geoisolator setelah sebelumnya memperbaiki saluran dan tanggul. Kendati begitu, masih ada sejumlah petambak yang belum memulai sama sekali kegiatan budidaya garam.

Jika kondisi kemarau basah tetap terjadi hingga masa produksi, jumlah produksi garam petani tahun ini diprediksi akan sama dengan jumlah pada tahun 2016 yang juga mengalami kemarau basah, yaitu 15 ribu ton. Sementara jumlah produksi pada tahun 2019 sebesar 152.540 ton dengan masa produksi dari akhir Mei hingga pekan kedua Desember.

Jumlah produksi garam sempat turun 25 persen pada tahun 2020, yakni menjadi 38.836 ton dengan tiga bulan masa produksi, Agustus sampai Oktober.

“Tahun ini, baru ada satu dua petambak yang produksi kemarin di bulan Mei. Cuma karena hujan, belum ada yang produksi lagi,” ucap pria yang akrab disapa Beno itu.

Beno mengungkapkan, per Jumat (2/7/2021) kemarin, jumlah produksi garam dari beberapa petambak hanya sebanyak 48 ton.

Pada tahun 2020 lalu produktivitas lahan tambak garam mencapai 42 ton setiap hektar. Sementara berdasar serapan PT. Garam, idealnya setiap hektar memproduksi 100 ton. Dengan kondisi kemarau basah, ada potensi kehilangan 52 ton setiap hektar.

Soal stok garam, hasil produksi tahun 2020 masih tersisa sebanyak 8.800 ton. Stok tersebut lambat terserap seiring dengan berkurangnya serapan pabrik karena adanya impor garam. Meski begitu, pihaknya mengantisipasi gagal panen dengan menyalurkan benih ikan kakap putih sebanyak 22 ribu ekor untuk pengganti budidaya garam.

“Sudah kami berikan bulan kemarin. Kalau budidaya bandeng petambak sudah biasa setiap tahun, saat garam tidak memungkinkan,” ungkap alumnus Institut Teknologi Surabaya (ITS) itu.

Terkait kondisi itu, Sekretaris Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Moh. Ali menyarankan agar pemerintah terus segera mencari solusi dan antisipasi jika pada masa produksi garam tahun ini terjadi gagal panen. Sebab petambak masih berharap banyak pada garam. Terlebih, mengubah tambak garam menjadi tambak ikan masih butuh biaya produksi.

“Meski harga garam rakyat masih terus dirusak oleh impor,” ucap politisi Partai Demokrat itu. (ali/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *